Selasa, 25 Oktober 2011

Sejarah Perkembangan Istilah di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Istilah adalah kata atau frasa yang dipakai sebagai nama atau lambang dan yang dengan cermat mengungkapkan makna, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Bahasa terus berkembang dari waktu ke waktu. Kosakata baru terus bermunculan, sedangkan kosakata lama bisa mengalami perubahan atau pergeseran dalam hal maknanya. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang berlatar belakang budaya maupun linguistik. Pengaruh dominan faktor-faktor tersebut bersifat relatif seiring perubahan situasi dan waktu. Dalam sejarah Indonesia kita telah mengetahui bahwa salah satu usaha untuk mengukuhkan persatuan bangsa ialah dengan pemanfaatan bahasa. Namun, ada yang belum mencapai tujuannya dengan sempurna, misalnya menyusun konsep salah satu aspek bahasa yaitu penyusunan peristilahan.
Dalam pembicaraan tentang peristilahan ini, istilah-istilah yang digunakan di Indonesia seringkali mengalami perubahan atau pergeseran makna asal kata. Untuk itu, kita perlu mengetahui dan memperhatikan faktor yang mempengaruhi perubahan dan pergeseran makna tersebut dan dapat mengidentifikasikan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Mengapa istilah-istilah yang digunakan di Indonesia seringkali mengalami perubahan/pergeseran makna dari makna asal kata tersebut?
2.      Lakukan identifikasi istilah-istilah yang berasal dari negara asalnya:
a.       Sansekerta                                                 d. Belanda
b.      Arab                                                          e. Inggris
c.       Latin                                                          f. Nusantara
1.3  Tujuan Penulisan
1.      Dapat menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan istilah-istilah yang ada di Indonesia seringkali mengalami perubahan/pergeseran makna dari makna.
2.      Dapat menjelaskan proses pembentukan istilah dalam bahasa Indonesia
3.      Dapat mengidentifikasikan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia
4.      Dapat mengetahui Pemadaman istilah dan Penyerapan istilah
5.      Bagan pembentukan istilah
6.      Dapat mengidentifikasi Istilah yang berasal dari Negara lain

1.4  Manfaat Penulisan
1.      Mengembangkan kemampauan mmahasiswa dalam menjelaskan proses pembentukan istilah dalam bahasa Indonesia
2.       Dapatmenjadi  salah satu proses kemandirian mahasiswa dalam proses pembelajaran
3.       Dapat menjadi salah satu wadah untuk mengetahui sesuatu tanpa pemaparan dari dosen
4.       Dapat menjadi salah satu sarana untuk membina hubungan belajar kelompok dengan baik
5.      Dapat meningkatkan kecerdasab berbahasa secara konsisten dan berkelanjutn
 
BAB II
PEMBAHASAN
2.1        Perubahan/ pergeseran Makna
2.1.1        Terjadinya perubahan makna
Perubahan makna itu tidak saja mencakup bidang waktu, tetapi dapat juga mencakup persoalan tempat. Sebuah kata dengan arti yang mula-mula dikenal oleh semua anggota masyarakat bahasa,. Perubahan makna kata dalam arti yang luas, tidak hanya mencakup perubahan makna seperti yang dimaksud tadi, tetapi juga mencakup perubahan yang dapat dikatakan berada dalam dua ekstrim. Denganarti kata yang asli masih digunakan, sebaliknya dalam hubungan-hubungan tertentu maknanya mengalami perubahan.
2.1.2        Macam-macam Perubahan Makna
(1)   PerluasanArti
Yang dimaksud dengan perluasan arti adalah suatu proses perubahan makna yang dialami ssebuah kata yang tadinya menganung suatu makna yang khusus , tetapi kemudian meluas sehingga melinkupi sebuah kelas makna yang lebih umum. Kata berlayar dulu dipakai dengan pengertian : bergerak di laut dengan menggunakan layar. Sekarang semua tindakan mengarungi lautan atau perairan dengan mempergunakan alat apa saja disebut berlayar.
(2)   Penyempitan Arti
Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah kata dimana makna yang lama lebih lua cakupannya dari makna yang baru. Kata pala tadinya bearti buah pada umumnya, sekarang hanya dipakai untuk menyebutkan jenis buah tertentu. Kata sarjana dulu dipakai untuk menyebut seorang cendekiawan. Sekarang dipakai untuk gelar univesiter.
(3)   Ameliorasi
Ameliorasi adalah suatu proses perubahan makna, dimana arti yang baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik dari arti yang lama. Kata wanita dirasakan nolainya lebih tingi dai kata perempuan, kata istri atau nyonya dirasakan lebih tinggi dari pada kata bini.
(4)   Peyorasi
Peyorasi adalah suatu proses perubahan makana sebagai kebalikan dari ameliorasi. Dalam peyorasi arti yang baru dirasakan lebih rendah nilainya dari arti yang lama. Kata bini diangap lebih tingi pada jaman lampau, sekarang dirasakan sebagai kata yang kasar .
(5)   Metafora
Perubahan makna yang dinamakan peyorasi, ameliorasi, menyempit dan meluas dai nilai rasa dan luas lingkup makna dulu dan sekarang . disamping itu perubahan makna dapat dilihat dari sudut persepsi meiripan fungsional antaa dua obyek. Metafora adalah perubahan makana karena persamaan sifat antara dua obyek. Ia merupakan pengalihan semantik berdasarkan kemirpan persepsi makna. Contohnya kata matahari, putri malam(untuk bulan) pulau (empu laut ) semua ibentuk berdasarka metafora.
(6)    Metonimi
Metonimi sebagai suatu proses perubahan makna terjadi karena hubungan yang erat antara kata-kata yang telibat dalam suau lingkungan makna yan sama. Dan dapat iklasifikasikan menurut tempat atau waku, menurut hubungan isi dan kulit dan hubungan antara sebab dan akibat.
2.2        Faktor-faktor yang Menyebabkan Istilah dalam bahasa Indonesia Mengalami Perubahan/ Pergeseran Makna
Perkembangan makna mencakup segala hal tentang makna yang berkembang, baik berubah maupun bergeser. Di dalam hal ini perkembangan meliputi segala hal tentang perubahan makna baik yang meluas, menyempit, atau yang bergeser maknanya. Bahasa mengalami perubahan dirasakan oleh setiap orang, dan salah satu aspek dari perkembangan makna (perubahan arti) yang menjadi objek telaah semantik historis. Perkembangan bahasa sejalan dengan perkembangan penuturnya sebagai pemakai bahasa. Kita ketahui bahwa penggunaan bahasa diwujudkan dalam kata-kata dan kalimat. Pemakai bahasa yang menggunakan kata-kata dan kalimat, pemakai itu pula yang menambah,mengurangi atau mengubah kata-kata atau kalimat. Jadi, perubahan bahasa merupakan gejala yang terjadi di dalam suatu bahasa akibat dari pemakaian yang dipengaruhi oleh berbagai factor.
Gejala perubahan makna sebagai akibat dari perkembangan makna oleh para pemakai bahasa. Bahasa berkembang sesuai dengan perkembangan pikiran manusia. Sejalan dengan hal tersebut karena manusia yang menggunakan bahasa maka bahasa akan berkembang dan makna pun ikut berkembang. Faktor-faktor yang dapat menjadikan suatu bahasa bisa berubah, antara lain:
(1)         Bahasa berkembang seperti yang dikatakan Meilet, “this continuous way from one generation to another".
(2)          Makna kata itu samar (bisa ‘dapat’ atau bisa ‘racun’ tanpa konteks tak jelas maknanya).
(3)          Kehilangan motivasi (loss of motivation).
(4)          Adanya makna ganda.
(5)         Karena ambigu (ketaksaan) "amoiguos context" .
(6)         Struktur kosakata.
Faktor-faktor yang disebutkan merupakan hal yang dapat mengakibatkan perubahan makna, perluasan makna, pembatasan makna, dan pergeseran makna, yang terangkum di dalam perkembangan makna.
Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah, tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa yang relative singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah; tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Ada kemungkinan ini bukan berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sebuah bahasa, melainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja, yang disebabkan oleh berbagai faktor berikut.
(1)         Perubahan Makna dari Bahasa Daerah ke dalam Bahasa Indonesia
Perubahan makna dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia, sebagai contoh misalnya kata seni yang kemudian di dalam bahasa Indonesia bermakna sepadan dengan bahasa Belanda kunst. Bila kita melihat makna kata seni yang berarti (i) ‘halus’, (ii) air seni ‘air kencing’, (iii) ‘kecakapan membuat sesuatu yang elok-elok atau indah’ (Poerwadarminta, 1976: 916-917). Bagi masyarakat Melayu kata seni lebih banyak dihubungkan dengan air seni atau air kencing. Djajasudarma (1993), menjelaskan kosakata bahasa daerah tertentu yang masuk ke dalam bahasa Indonesia dirasakan tidak layak diucapkan bagi daerahnya, tetapi di dalam bahasa Indonesia maknanya menjadi layak dan dipakai oleh masyarakat bahasa Indonesia yang berasal dari daerah lain, seperti kata-kata:
(1) butuh, berasal dari bahasa Palembang butuh 'alat kelamin laki-laki'; di dalam bahasa Indonesia selain butuh, didapatkan pula membutuhkan, dibutuhkan, dan makna butuh menjadi 'perlu'.
(2) kata tele bagi masyarakat Gorontalo berarti 'alat kelamin perempuan', tetapi di dalam bahasa Indonesia dipakai bertele-tele, lebih banyak dihubungkan dengan berkepanjangan ketika menjelaskan sesuatu.
(3) kata momok yang bermakna 'alat kelamin perempuan' bagi penutur bahasa Indonesia yang berbahasa ibu Sunda, di dalam bahasa Indonesia bergeser menjadi 'hantu'; masyarakat bahasa Indonesia yang tidak berbahasa ibu  Sunda tidak merasa apabila memakai kata tersebut.
Selanjutnya, Kata-kata daerah yang masuk ke dalam bahasa Indonesia yang dirasakan tidak layak diucapkan bagi suatu daerah, tetapi tidak demikian bagi daerah lainnya, dan lama-kelamaan mungkin tidak dirasakan lagi ketakutan untuk mengungkapkannya, seperti pada ekspresi berikut.
(1) Hal tersebut membutuhkan pemikiran lebih lanjut.
(2) Jangan bertele-tele kalau berbicara.
Bila dirasakan tidak layak karena alasan makna yang berasal dari bahasa daerah, maka hal tersebut akan diganti dengan bentukan berikut.
(1) Hal tersebut memerlukan pemikiran lebih lanjut.
(2) Jangan berkepanjangan kalau berbicara! Melihat kenyataan di atas, perubahan makna dapat terjadi pada kosakata bahasa daerah yang dipungut bahasa Indonesia
(2)   Perubahan Makna akibat bidang ilmu dan teknologi.
Adanya perkembangan konsep keilmuan dan teknologi dapat menyebabkan sebuah kata yang pada mulanya bermakna A menjadi bermakna B atau bermakna C. Setiap penemuan baru selalu diberi nama baru, baik dengan menciptakan sendiri, menghidupkan kata lama yang tidak terpakai lagi, menggabung makna yang sudah ada untuk menciptakan makna sendiri, maupun menyerap dari bahasa lain (Parera, 2004:111).
Salah satu teknologi yang terus berkembang sangat pesat adalah teknologi informasi dan komputer. Penemuan dan inovasi dalam bidang ini yang memerlukan penciptaan istilah baru. Banyak penemuan dalam bidang tersebut menggunakan istilah asing terutama bahasa Inggris karena memang penemuan tersebut diciptakan oleh bangsa asing. Kemajuan teknologi bangsa Indonesia jauh terlambat dibandingkan negara lain, sehingga sering kali sulit mencari padanan kata untuk penemuan tersebut dalam bahasa Indonesia. Apabila ada padanan kata dalam bahasa Indonesia, berarti kata tersebut akan mengalami perluasan atau penyempitan. Misalnya pada istilah komputer ”window”. Kata ini dalam bahasa Indonesia diartikan ”jendela”. Jadi kata ’jendela’ bisa meluas untuk menjelaskan tampilan pada aplikasi komputer, tidak hanya seperti pada jendela rumah. Contoh kata ini banyak digunakan, dan dirasa cukup berterima. Contoh kata lain yang masih berhubungan dengan komputer adalah ”mouse”. Dalam bahasa Indonesia kata ini dibakukan menjadi ”tetikus”. Pemerintah juga berperan dalam penentuan standar pembakuan istilah asing ini (panduan pembakuan istilah komputer dapat dilihat pada situs Web http://www.vlsm.org/etc/baku-0.txt).
Walaupun demikian, tetap saja masyarakat pengguna bahasa itulah yang akan menentukan apakah akan memakai istilah asing sesuai aslinya maupun istilah terjemahan yang dibuat pemerintah. Peran media maupun literatur (buku-buku bacaan) juga dapat memengaruhi masyarakat untuk menggunakan berbagai istilah tersebut.
(3)   Perubahan Makna Akibat sosial budaya atau Lingkungan
Perkembangan dalam masyarakat berkenaan dengan sikap sosial dan budaya, juga menyebabkan terjadinya perubahan makna. Lingkungan masyarakat dapat menyebabkan perubahan makna suatu kata. Kata yang dipakai di dalam lingkungan tertentu belum tentu sama maknanya dengan kata yang dipakai di lingkungan lain. Misalnya, kata seperti cetak, bagi yang bergerak di lingkungan persuratkabaran, selalu dihubungkan dengan tinta, huruf, dan kertas, tetapi bagi dokter lain lagi, dan lain pula bagi pemain sepak bola. Seperti pada ekspresi bahasa berikut.
(1) Buku ini dicetak di Balai Pustaka.
(2) Cetakan batu bata itu besar-besar.
(3) Pemerintah menggiatkan pencetakan lahan baru bagi petani.
(4) Dokter banyak mencetak uang.
(5) Ali mencetak lima gol dalam pertandingan itu.
(4)   Perubahan Makna Akibat Gabungan kata.
Setiap bidang kegiatan atau keilmuan biasanya mempunyai sejumlah kosakata yang berkenaan dengan bidangnya itu. Perubahan makna dapat terjadi sebagai akibat gabungan kata, sebagai contoh dari kata surat (sebagai makna umum (1) ‘kertas’, ‘kain’ dan sebagainya yang bertulis berbagai maksud; (2) ‘secarik kertas atau kain, dan  sebagainya; sebagai tanda atau keterangan; (3) ‘tulisan’ (yang tertulis) (KBBI, 1988: 872) dapat bergabung dengan kata lain dan maknanya berbeda, seperti pada:

(1) surat jalan
(2) surat perintah
(3) surat keterangan
(4) surat kaleng

Perubahan makna akibat gabungan kata, antara lain, terjadi pada kata rumah, dan makna akibat gabungan tersebut menunjukkan tempat melakukan sesuatu atau tempat khusus, seperti pada:

(1) rumah sakit
(2) rumah makan
(3) rumah tahanan
(4) rumah jompo

Sekarang muncul pula gabungan antara panti dengan kata lain yang bermakna tempat melakukan sesuatu, seperti pada panti asuhan, panti pijat, dan sebagainya.
(5)   Perubahan Makna akibat Pertukaran tanggapan indera.
Alat indera kita yang lima mempunyai fungsi masing-masing untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia. Sinestesi adalah istilah yang digunakan untuk perubahan makna akibat pertukaran indera. Kata sinestesi berasal dari kata Yunani sun 'sama' ditambah aisthetikos 'nampak'. Pertukaran indera yang dimaksud, misalnya antara indera pendengar dengan indera penglihat, indera perasa dengan indera penglihat. Contoh-contoh berikut adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan pancaindera.

(1) suaranya terang
(2) katanya manis
(3) penampilannya manis
(4) rupanya manis sekali
(5) kata-katanya pedas
(6) kata yang manis enak didengar
(7) kata-katanya sangat pahit bagi kami
(8) orangnya hitam manis


(6)   Perubahan Makna akibat Adanya asosiasi
Yang dimaksud dengan adanya asosiasi adalah adanya hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran itu, sehingga dengan demikian bila disebut ujaran itu maka yang dimaksud adalah sesuatu yang lain berkenaan dengan ujaran itu. Asosiasi adalah hubungan antara makna asli, makna di dalam lingkungan tempat tumbuh kata tersebut, dengan makna yang baru, makna di dalam lingkungan tempat kata itu dipindahkan ke dalam pemakaian bahasa (Slametmuljana, 1964). Makna baru ini masih menunjukkan asosiasi dengan makna asli (lama).
Makna asosiasi dapat kita hubungkan dengan waktu atau peristiwa, seperti ekspresi berikut ini:
(1)  Mari kita rayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
(2)  Karto Suwiryo mengganas di Jawa Barat.
(3)  Penjajahan harus kita hapuskan dari bumi Indonesia.
(4)  Setiap tanggal 21 April para remaja berebut waktu di salon tersebut.
(5)  Hari Ibu di daerah kami dirayakan dengan mengadakan perlombaan bayi sehat.
Djajasudarma (1993), makna asosiasi dapat pula dihubungkan dengan tempat atau lokasi. Kata-kata seperti: Cendana, Monas, Grogol, Cengkareng, Bandung, dan sebagainya menunjukkan makna asosiasi tempat dengan segala peristiwa yang terjadi. Kalau orang mengatakan Senayan, makna asosiasi kita dapat segera menunjukkan bahwa tempat yang berhubungan dengan lapangan olah raga terutama sepak bola, kantor Depdikbud, ruang sidang MPR atau DPR, dan bila orang mengatakan Cendana, makna asosiasi yang muncul adalah tempat kediaman mantan Presiden Soeharto.
Makna asosiasi dapat pula dihubungkan dengan warna, misalnya, merah putih berasosiasi dengan negara Indonesia. Sebuah kapal yang mendekati pelabuhan dengan mengibarkan bendera kuning, tanda ada yang sakit, dan menyatakan bahwa para petugas pelabuhan harus menyediakan ambulans dan dokter untuk merawat orang yang sakit tersebut. Warna kuning memiliki makna asosiatif penyakit atau ada yang meninggal bagi daerah tertentu, misalnya Jakarta. Di dalam suatu pertemuan bendera berwarna putih berasosiasi dengan 'menyerah' dan lawan akan menghentikan pertempuran tersebut. Warna merah pada lampu stopan mengasosiasikan dengan 'berhenti', warna kuning dengan 'siap-siap' dan warna hijau 'berjalan'. Warna hitam mengasosiasikan kita kepada 'kesukaan' atau 'kemalangan', dan orang Tionghoa yang mendapat kemalangan selalu memakai pita hitam yang menempel pada bajunya. Warna yang diterapkan pada wayang (golek) memiliki asosiasi lain lagi, dan Anda dapat menelusuri makna tersebut melalui seorang dalang.
Makna asosiasi dapat pula dihubungkan dengan tanda (gambar) tertentu.Misalnya, di dalam lalu lintas kita mengenal rambu-rambu lalulintas. Tanda Z berasosiasi dengan ‘jalan berbelok-belok', ada tanda untuk pom bensin, rumah makan atau rumah sakit, dan sebagainya. Para pelaut atau tim SAR, kapten kapal dan sebagai sudah terlatih dengan makna asosiasi melalui tanda atau lambing tertentu. Tanda atau lambang yang digunakan biasanya bersifat internasional dan berlaku secara menyeluruh di dunia.
(7)    Perubahan Makna Akibat Tanggapan Pemakai Bahasa
Makna kata dapat mengalami perubahan akibat tanggapan pemakai bahasa. Perubahan tersebut cenderung ke hal-hal yang menyenangkan atau ke hal-hal yang sebaliknya, tidak menyenangkan.Kata yang cenderung maknanya ke arah yang baik disebut amelioratif, sedangkan yang cenderung ke hal-hal yang tidak menyenangkan (negatif) disebut peyoratif.
Kata-kata yang amelioratif, antara lain, kata juara dahulu bermakna  'kepala penyabung ayam', kini maknanya menjadi positif (menyenangkan), seperti pada juara renang, juara dunia, dan sebagainya, sedangkan kata-kata yang peyoratif, antara lain, kata gerombolan dahulu bermakna 'orang yang berkelompok', dengan munculnya pemberontakan di Indonesia kata gerombolan memiliki makna negatif, bahkan tidak menyenangkan dan menakutkan. Kata gerombolan berpadanan dengan 'pengacau', 'pemberontak', 'perampok', dan 'pencuri'. Kata cuci tangan, dahulu dihubungkan dengan 'kegiatan mencuci tangan setelah makan dan bekerja', sekarang cuci tangan dihubungkan dengan makna 'tidak bertanggung jawab di dalam suatu persoalan' atau 'tidak mau ikut campur' (karena kegiatannya membahayakan diri sendiri), perbedaan makna tersebut dapat terlihat ekspresi kalimat berikut.
(1) la mencuci tangan sebelum makan siang itu.
(2) la cuci tangan dengan menjelekkan kawannya sendiri dalam persoalan itu.
(3) Cuci tangan pada persoalan yang dihadapinya mengakibatkan orang meragukan dia.
2.3  Identifikasi Istilah-istilah dalam bahasa Indonesia
2.3.1        Istilah dan Tata Istilah
Istilah adalah kata atau frasa yang dipakai sebagai nama atau lambang dan yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Tata istilah (terminologi) adalah perangkat asas dan ketentuan pembentukan istilah serta kumpulan istilah yang dihasilkannya.
Misalnya:

1.       Anabolisme
  1. Demokrasi
  2. Laik terbang

2.3.1.1  Istilah umun dan Istilah Khusus
Istilah umum adalah istilah yang berasal dari bidang tertentu, yang karena dipakai secara luas, menjadi unsur kosakata umum.
Misalnya:

1.       Anggaran belanja
  1. Daya
  2. Nikah

Istilah khusus adalah istilah yang maknanya terbatas pada bidang tertentu saja.
Misalnya:

1.       Apendektomi
  1. Bipatride
  2. kurtosis

2.3.2        Pemadaman Istilah
Pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia, dan jika perlu ke salah satu bahasa serumpun, dilakukan lewat penerjemahan, penyerapan, atau gabungan penerjemahan dan penyerapan. Demi keseragaman, sumber rujukan yang diutamakan ialah istilah Inggris yang pemakaiannya bersifat internasional karena sudah dilazimkan oleh para ahli dalam bidangnya. Penulisan istilah serapan itu dilakukan dengan atau tanpa penyesuaian ejaannya berdasarkan kaidah fonotaktik, yakni hubungan urutan bunyi yang diizinkan dalam bahasa Indonesia.
2.3.2.1  Penerjemahan
2.3.2.1.1        Penerjemahan Langsung
Istilah Indonesia dapat dibentuk lewat penerjemahan berdasarkan kesesuaian makna tetapi bentuknya tidak sepadan.
Misalnya:
1. Supermarket - pasar swalayan
2. Merger - gabungan usaha
Penerjemahan dapat pula dilakukan berdasarkan kesesuaian bentuk dan makna.
Misalnya:
1. Bonded zone - kawasan berikat
2. Skyscraper - pencakar langit
Penerjemahan istilah asing memiliki beberapa keuntungan. Selain memperkaya kosakata Indonesia dengan sinonim, istilah terjemahan juga meningkatkan daya ungkap bahasa Indonesia. Jika timbul kesulitan dalam penyerapan istilah asing yang bercorak Anglo-Sakson karena perbedaan antara lafal dan ejaannya, penerjemahan merupakan jalan keluar terbaik.
Dalam pembentukan istilah lewat penerjemahan perlu diperhatikan pedoman berikut.
1.      Penerjemahan tidak harus berasas satu kata diterjemahkan dengan satu kata. Misalnya:
1.       Psychologist - ahli psikologi
    1. Medical practitioner - dokter
2.      Istilah asing dalam bentuk positif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk positif, sedangkan istilah dalam bentuk negatif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk negatif pula. Misalnya:
    1. Bound form - bentuk terikat (bukan bentuk takbebas)
    2. Illiterate - niraksara
    3. Inorganic - takorganik
3.      Kelas kata istilah asing dalam penerjemahan sedapat-dapatnya dipertahankan pada istilah terjemahannya. Misalnya:
1.       Merger (nomina) - gabung usaha (nomina)
2.       Transparent (adjektiva) - bening (adjektiva)
3.       (to) filter (verba) - menapis (verba)
4.      Dalam penerjemahan istilah asing dengan bentuk plural, pemarkah kejamakannya ditanggalkan pada istilah Indonesia. Misalnya:

1.       Alumni - lulusan
2.       Master of ceremonies - pengatur acara
3.       Charge d'affaires - kuasa usaha

2.3.2.1.2        Penerjemahan dengan Perekaan
Adakalanya upaya pemadanan istilah asing perlu dilakukan dengan menciptakan istilah baru. Istilah factoring, misalnya, sulit diterjemahkan atau diserap secara utuh. Dalam khazanah kosakata bahasa Indonesia/Melayu terdapat bentuk anjak dan piutang yang menggambarkan pengalihan hak menagih utang. Lalu, direka istilah anjak piu-tang sebagai padanan istilah factoring. Begitu pula pemadanan catering menjadi jasa boga dan invention menjadi rekacipta diperoleh lewat perekaan.
2.3.3        Penyerapan
2.3.3.1  Penyerapan Istilah
Penyerapan istilah asing untuk menjadi istilah Indonesia dilakukan berdasarkan hal-hal berikut.
1.      Istilah asing yang akan diserap meningkatkan ketersalinan bahasa asing dan bahasa Indonesia secara timbal balik (intertranslatability) mengingat keperluan masa depan.
2.      Istilah asing yang akan diserap mempermudah pemahaman teks asing oleh pembaca Indonesia karena dikenal lebih dahulu.
3.      Istilah asing yang akan diserap lebih ringkas jika dibandingkan dengan terjemahan Indonesianya.
4.      Istilah asing yang akan diserap mempermudah kesepakatan antarpakar jika padanan terjemahannya terlalu banyak sinonimnya.
5.      Istilah asing yang akan diserap lebih cocok dan tepat karena tidak mengandung konotasi buruk.
Proses penyerapn istilah asing, dengan mengutamakan bentuk visualnya, dilakukan dengan cara yang berikut.
1.      Penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal Misalnya:
1.       Camera - kamera
    1. Microphone - mikrofon
    2. System - sistem
2.      Penyerapan dengan penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal Misalnya:

    1. Design - desain
    2. File - fail
    3. Science - sains

3.      Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan penyesuaian lafal Misalnya:

    1. Bias - bias
    2. Nasal - nasal
    3. Radar (radio detecting and ranging) – radar

4.      Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan dan lafal
1.      Penyerapan istilah asing tanpa penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika ejaan dan lafal istilah asing itu tidak berubah dalam banyak bahasa modern, istilah itu dicetak dengan huruf miring. Misalnya:

1.       Allegro moderato
2.       Aufklarung
3.       Status quo
4.       Esprit de corps
5.       divide et impera
6.       dulce et utile
7.       in vitro
8.       vis-à-vis

2.      Penyerapan istilah tanpa penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika istilah itu juga dipakai secara luas dalam kosakata umum, istilah itu tidak ditulis dengan huruf miring (dicetak dengan huruf tegak). Misalnya:

1.       Golf - golf
2.       Internet - internet
3.       Lift - lift
4.             Orbit - orbit
5.             Sonar (sound navigation and ranging)- sonar

2.3.3.2  Penyerapan Afiks dan Bentuk Terikat Istilah Asing
2.3.3.2.1     Penyesuaian Ejaan Prefiks dan Bentuk Terikat
Prefiks asing yang bersumber pada bahasa Indo-Eropa dapat dipertimbangkan pemakaiannya di dalam peristilahan Indonesia setelah disesuaikan ejaannya. Prefiks asing itu, antara lain, ialah sebagai berikut.
a-, ab-, abs- ('dari', 'menyimpang dari', 'menjauhkan dari') tetap a-, ab-, abs-
amoral abnormal abstract - amoral abnormal abstrak
a-, an- 'tidak, bukan, tanpa' tetap a-, an
anemia aphasia aneurysm - anemia afasia aneurisme
ad-, ac- 'ke', 'berdekatan dengan', 'melekat pada', menjadi ad-, ak-
adhesion acculturation - adhesi akulturasi
am-, amb- 'sekeliling', 'keduanya' tetap am-, amb-
ambivalence amputation - ambivalensi amputasi
ana-, an- 'ke atas', 'ke belakang', 'terbalik' tetap ana-, an-
anabolism anatropous - anabolisme anatrop
ante- 'sebelum', 'depan' tetap ante-
antediluvian anterior - antediluvian anterior
anti-, ant- 'bertentangan dengan' tetap anti-, ant-
anticatalyst anticlinal antacid - antikatalis antiklinal antacid
apo- 'lepas, terpisah', 'berhubungan dengan' tetap apo-
apochromatic apomorphine - apokromatik apomorfin
2.3.3.2.2     Penyesuaian Ejaan Sufiks
Sufiks asing dalam bahasa Indonesia diserap sebagai bagian kata berafiks yang utuh. Kata seperti standardisasi, implementasi, dan objektif diserap secara utuh di samping kata standar, implemen, dan objek. Berikut daftar kata bersufiks tersebut.
-aat (Belanda) menjadi -at
Advocaat Plaat Tractaat - advokat pelat traktat
-able, -ble (Inggris) menjadi -bel
Variable Flexible - variabel flexible
-ac (Inggris) menjadi -ak
Maniac Cardiac Almanac - maniak kardiak almanac
-age (Inggris) menjadi -ase
Sabotage Arbitrage Percentage - sabotase arbitrase persentase
-air (Belanda), -ary (Inggris) menjadi -er
Complementair, complementary Primair, primary Secundair, secondary - komplementer primer sekunder
-al (Inggris) menjadi -al
Credential Minimal Mational kredensial minimal nasional
-ance, -ence (Inggris) menjadi –ans, -ens
Ambulance Conductance Termophosphorescence Thermoluminescence - ambulans konduktans termosfosforensens termoluminesens
2.3.3.2.3     Gabungan Penerjemahan dan Penyerapan
Istilah bahasa Indonesia dapat dibentuk dengan menerjemahkan dan menyerap istilah asing sekaligus.
Misalnya:
1.       Bound morpheme - morfem terikat
2.       Clay colloid - koloid lempung
2.3.3.2.4     Bagan Prosedur Pembakuan Istilah
Prosedur pembakuan istilah dapat dilihat pada bagan berikut

2.3.3.2.5     Istilah Bentuk Dasar
Istilah bentuk dasar dipilih di antara kelas kata utama, seperti nomina, verba, adjektiva, dan numeralia. Misalnya :

Nomina:
1.       kaidah - rule
2.       busur - bow
3.       cahaya - light
Verba:
1.       keluar - out
2.       Uji - test
3.       Tekan - press
Adjektiva:
1.       kenyal - elastic
2.       Acak - random
3.       Cemas - anxious
Numeralia:
1.       gaya empat - four force
2.       (pukulan) satu-dua - one-two
3.       (bus) dua tingkat - double decker

2.3.3.2.6     Istilah Bentuk Majemuk
Istilah bentuk majemuk atau kompositum merupakan hasil penggabungan dua bentuk atau lebih, yang menjadi satuan leksikal baru. Gabungan kata itu berupa (1) gabungan bentuk bebas dengan bentuk bebas, (2) bentuk bebas dengan bentuk terikat, atau (3) bentuk terikat dengan bentuk terikat.
2.3.3.2.6.1  Gabungan Bentuk Bebas
Istilah majemuk bentuk bebas merupakan penggabungan dua unsur atau lebih, yang unsurunsurnya dapat berdiri sendiri sebagai bentuk bebas. Gabungan bentuk bebas meliputi gabungan (a) bentuk dasar dengan bentuk dasar, (b) bentuk dasar dengan bentuk berafiks atau sebaliknya, dan (c) bentuk berafiks dengan bentuk beraf
a.        Gabungan Bentuk Dasar
Istilah majemuk gabungan bentuk dasar merupakan penggabungan dua bentuk dasar atau lebih.

1.          Garis lintang
2.          Masa depan
3.          Rawat jalan

b.      Gabungan Bentuk Dasar dan Bentuk Berafiks
Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk berafiks dan bentuk berafiks atau sebaliknya.

1.       Proses berdaur
2.       Sistem pencernaan
3.       menembak jatuh
4.       tertangkap tangan

c.        Gabungan Bentuk Berafiks dan Bentuk Berafiks
Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk berafiks dan bentuk berafiks. Misalnya:
1.       Kesehatan lingkungan
  1. Perawatan kecelakaan
  2. Pembangunan berkelanjutan
2.7.2. Gabungan Bentuk Bebas dengan Bentuk Terikat
Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan dua bentuk, atau lebih, yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri. Ada sejumlah bentuk terikat yang dapat digunakan dalam pembentukan istilah yang berasal dari bahasa Jawa Kuno dan Melayu. Misalnya:

adi-
1.       adikarya - masterpiece
  1. adikuasa - superpower
antar-
1.       antarkota - intercity
  1. antarbangsa - international
awa-
1.       awaair - dewater
  1. awalengas - dehumidity
tuna-
1.       tunahargadiri - inferiority
  1. tunakarya - unemployed

Sementara itu, bentuk terikat yang berasal dari bahasa asing Barat, dengan beberapa perkecualian, langsung diserap bersama-sama dengan kata lain yang mengikutinya. Contoh gabungan bentuk asing Barat dengan kata Melayu-Indonesia adalah sebagai berikut:
1.       Globalization - globalisasi
  1. Modernization - modernisasi
Gabungan bentuk bebas dan bentuk terikat seperti –wan dan –wati dapat dilihat pada contih berikut:
1.       Ilmuwan - scientist
  1. Seniwati - woman artist
2.7.3 Gabungan Bentuk Terikat
Istilah majemuk bentuk gabungan ini merupakan penggabungan bentuk terikat, dan bentuk terikat unsur itu ditulis serangkai, tidak diberi tanda hubung. Misalnya:
1.       Dasawarsa - decade
  1. Swatantra - selfgovernment
a.       Istilah Bentuk Analogi
Istilah bentuk analogi bertolak dari pola bentuk istilah yang sudah ada, seperti berdasarkan pola bentuk pegulat, tata bahasa, juru tulis, pramugari, dengan pola analogi pada istilah tersebut dibentuk berbagai istilah lain. Misalnya:
1.       Pegolf (golfer)
  1. Tata graha (housekeeping)
  2. Juru masak (cook)
b.      Istilah Hasil Metanalisis
Istilah hasil metanalisis terbentuk melalui analisis unsur yang keliru. Misalnya:
1.       Kata mupakat (mufakat) diuraikan menjadi mu + pakat; lalu ada kata sepakat.
  1. Kata dasar perinci disangka terdiri atas pe + rinci sehingga muncul istilah rinci dan rincian.

2.3.4        Istilah Sansekerta
Bahasa Sanskerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. Bahasa yang bisa menandingi 'usia' bahasa ini dari rumpun bahasa Indo-Eropa hanya bahasa Hitit. Kata Sansekerta, dalam bahasa Sanskerta Saṃskṛtabhāsa artinya adalah bahasa yang sempurna. Maksudnya, lawan dari bahasa Prakerta, atau bahasa rakyat.
Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India, sebuah bahasa liturgis dalam agama Hindu, Buddhisme, dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa resmi India. Bahasa ini juga memiliki status yang sama di Nepal.
Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak bahasa-bahasa modern di anakbenua India. Bahasa ini muncul dalam bentuk pra-klasik sebagai bahasa Weda. Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua.
Berikut ini merupakan Tradisi Sansekerta yang Mempengaruhi Bahasa Indonesia yaitu:
1.      Kosakata Sansekerta cukup banyak dalam Bahasa Indonesia karena adanya penggunaan dua(2) bahasa yaitu Bahasa Sansekerta dan Bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan( lingua pranca).
Misalnya:

1.   Dwi
2.   Panca
3.   Maha
4.   Adipati
5.   Budi

2.      Pengaruh Struktur Bahasa Sansekerta yang mengenal/membedakan jenis kelamin
Misalnya:

1.            Putera > < puteri
2.            Pelonco > < pelonci
3.            Dewa > < dewi
4.            Mahasiswa >< mahasiswi
5.            Dermawan >< dermawati

3.      Selain itu dalam bahasa Sanskerta didapatkan apa yang disebut hukum sandhi, sebuah fenomena fonetik di mana dua bunyi berbeda yang berdekatan bisa berasimilasi, kecuali yang mengenai nama.
Misalnya:

1.            Masa alah→masalah
2.            majallah→majalah
3.            ocktaaf→oktaf

4.      Adanya Klaster
Misalnya:

1.            Bh → bhakti
2.            Ph → phala
3.            Sh → shalat
4.            Dh → dharma
5.      Sw→swasemda



5.      Pembentukan Kata majemuk
Kata-kata majemuk dalam bahasa Sanskerta sangat banyak digunakan, terutama menyangkut kata-kata benda. Kata-kata ini bisa menjadi sangat panjang (lebih dari 10 kata). Nominal majemuk terjadi dengan beberapa bentuk, namun secara morfologis mereka sejatinya sama. Setiap kata benda (atau kata sifat) terdapat dalam bentuk akarnya (bentuk lemah), dengan unsur terakhir saja yang ditasrifkan sesuai kasusnya. Beberapa contoh kata benda atau nominal majemuk termasuk kategori-kategori yang diperikan di bawah ini.

1.      Avyayibhāva
2.   Tatpuruṣa
3.      Karmadhāraya
4.   Dvigu
5.      Dvandva
Misalnya:
1.   meja ↔kursi
2.   sendok ↔ garpu
3.   tikar ↔ bantal
4.   piring ↔ mangkok
5.   gelap ↔ gulita
6.      Bahuvrīhi (diterangkan menerangkan)


6. Bahasa Sansekerta mengenal system Vokal dan Sisrem Konsonan sehingga hadirlah bunyi rangkap dan bunyi tunggal.
7.   Pembagian kata Bahasa Sansekerta dalam kata yaitu:

1.   Katnomen (kata benda)
2.   Verba ( kata kerja)
3.   Preposisi (kata depan)
4.   Partikel (kata partikel)

8.      Bahasa sansekerta mengenal 8 kasus
Salah satu ciri-ciri utama bahasa Sanskerta ialah adanya kasus dalam bahasa ini, yang berjumlah 8. Dalam bahasa Latin yang masih serumpun hanya ada 5 kasus. Selain itu ada tiga jenis kelamin dalam bahasa Sanskerta, maskulin, feminin dan netral dan tiga modus jumlah, singular, dualis dan jamak:

1.      kasus nominatif
2.      kasus vokatif
3.      kasus akusatif
4.      kasus instrumentalis
5.      kasus datif
6.      kasus ablatif
7.      kasus genetif
8.      kasus lokatif

9.         Bahasa Sansekerta sudah mengenal kalimat namun berdasarkan waktu (posisi kata) dan tidak mempengaruhi struktur kalimat bahasa Indonesia.
10.     Bahasa Sansekerta sudah mengatur bahwa bahasa itu ada teratur dan ada yang tidak teratur.
2.3.5        Istilah Arab
Kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Melayu yang berasal dari bahasa Arab cukup banyak, diperkirakan sekitar 2.000 - 3.000. Namun frekuensinya tidak terlalu besar. Secara relatif diperkirakan jumlah ini antara 10 % - 15 %. Sebagian kata-kata Arab ini masih utuh dalam arti yang sesuai antara lafal dan maknanya, dan ada sebagian lagi berubah. Untuk jelasnya kita ikuti saja contoh-contoh berikut ini:

Lafal dan arti masih sesuai dengan aslinya


(1)     abad, abadi, abah, abdi, adat, adil, amal, aljabar, almanak, awal, akhir,
(2)     bakhil, baligh, batil, barakah,
(3)     daftar, hikayat, ilmu, insan, hikmah, halal, haram, hakim,
(4)     khas, khianat, khidmat, khitan, kiamat
(5)     musyawarah, markas, mistar, mahkamah, musibah, mungkar, maut,
(6)     kitab, kuliah, kursi, kertas, nisbah, nafas,
(7)     syariat, ulama, wajib, ziarah.

Lafalnya berubah, artinya tetap


(1)     berkah, barakat, atau berkat dari kata barakah
(2)     buya dari kata abuya
(3)     derajat dari kata darajah
(4)     kabar dari kata khabar
(5)     lafal dari kata lafazh
(6)     lalim dari kata zhalim
(7)     makalah dari kata maqalatun
(8)     masalah dari kata mas-alatuna
(9)     mungkin dari kata mumkinun
(10) resmi dari kata rasmiyyun
(11) soal dari kata suaalun
(12) rezeki dari kata rizq
(13) Sekarat dari kata Zakarotil
(14) Nama-nama hari dalam sepekan : Ahad (belakangan jadi Minggu artinya=1), Senin (Isnaini=2), Selasa (Salasa), Rabu (Arba'a), Kamis (Khomsa), Jumat (Jumu'ah) dan Sabtu (sab`atun)


Lafal dan arti berubah dari lafal dan arti semula

(1)     keparat dalam bahasa Indonesia merupakan kata makian yang kira-kira bersepadan dengan kata sialan, berasal dari kata kafarat yang dalam bahasa Arab berarti tebusan.
(2)     logat dalam bahasa Indonesia bermakna dialek atau aksen, berasal dari kata lughah yang bermakna bahasa atau aksen.
(3)     naskah dari kata nuskhatun yang bermakna secarik kertas.
(4)     perlu, berasal dari kata fardhu yang bermakna harus.
(5)     petuah dalam bahasa Indonesia bermakna nasihat, berasal dari kata fatwa yang bermakna pendapat hukum.
(6)     laskar dalam bahasa indonesia bermakna prajurit atau serdadu, berasal dari kata 'askar yang berarti sama

Lafalnya benar, artinya berubah

(1)     ahli
(2)     "kalimat" dalam bahasa Indonesia bermakna rangkaian kata-kata, berasal dari bahasa Arab yang bermakna kata.
(3)     Siasat

2.3.6        Istilah Latin
Bahasa latin
Bahasa Indonesia
Hipotesis
Hipotesiss
Habitat
Habitat
Fragmentasi
Fragmentasi
Ekosistem
Ekosistem
Biosfer
Boisfer
Diferensiasi
Diferensiasi
Gen
Gen

2.3.7        Istilah Belanda
Bahasa Belanda juga banyak memengaruhi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa serta bahasa-bahasa Nusantara lainnya. Kata-kata pinjaman dalam bahasa Indonesia antara lain adalah:
Knalpot, bekleding, vermaak, achteruit, absurd, afdruk, belasting, bestek, bom, bretel, debat, degen, drama, elan, fabel, flop, fotomodel, fraude, garasi, giro, gratis, handel, harem, hutspot, inklaring, jas, kabinet, kanker, kansel, krat, lading, loket, marmer, masker, matras, mondeling, nota, oma, onderneming, opa, pan, pater, punt, rekening, rimpel, salaris, seks, sigaret, skelet, spoor, tank, testikel, tol, urine, vla, wastafel, wortel.
Namun beberapa kata-kata memang tidak digunakan lagi. Kata hutspot tidak banyak lagi dipergunakan, dan kata sigaret sudah diganti dengan kata rokok. Ironisnya kata terakhir ini juga berasal dari bahasa Belanda roken.
Selain itu ada pula beberapa kata yang dieja lain namun pelafazannya masih sama atau mirip dalam bahasa Belanda:
adopsi, apel, asprak, bagasi, bandit, baterai, bioskop, debil, demisioner, duane, ekonomi, energi, ereksi, finansiil, frustrasi, garansi, generasi, granat, higiene, ideologi, imbesil, impoten, inflasi, jenewer, kampiun, kantor, kardiolog, kartu, kastrasi, kelom, kondom, korting, kristen, kuitansi, langsam, losion, makelar, marsepen, menstruasi, monarki, opas, operasi, overproduksi, panekuk, parlemen, pesimis, polisi, resesi, revolusi, segregasi, sigar, sirop, setrup, skorsing, selop, spanduk, tabu, taksi, tanpasta, toleran, vegetarir, verkoper, verplehster, wanprestasi.
Setelah kemerdekaan Indonesia, beberapa kata ini berubah. Misalkan kata universitet dan kwalitet diganti dengan universitas dan kualitas, sehingga ciri khas Belandanya, menjadi berkurang.
Beberapa kata-kata kelihatan memang diambil dari bahasa Belanda. Beberapa contoh dengan ejaannya dalam bahasa Belanda:
abésé (alfabet), air ledeng (leidingwater), arbai (aardbei), ateret (achteruit), besenegeng (bezuiniging), buku (boek), dasi (stropdas), dopercis (doperwten), dus (douche), efisen (efficiënt),amplop (enveloppe), fakultas kedokteran (medische faculteit), gaji (gage), gemente (gemeente), hasyis (hasjies), hopagen (hoofdagent), insinyur (ingenieur), interpiu (interview), kakus (wc), keker (verrekijker), keroket (kroket), klep knalpot (uitlaatklep), komunis (communist), kopor (koffer), koterek (kurketrekker), lengseng (lezing), masase (massage), netral (neutraal), om (oom), ongkos (onkosten), otobus (autobus), pakansi (vakantie), pasasi (passage), pipa (pijp), puisi (poëzie), rebewes (rijbewijs), sakelek (zakelijk), stasiun (station), teh (thee), wese (wc), zeni (genie).
2.3.8        Istilah Inggris
Ada dua cara penyerapan kata-kata dan ungkapan-ungkapan dari bahasa inggris ke dalam bahasa Indonesia. Cara pertama adalah dengan menyerap secara seluruhnya, baik dalam ejaan maupun pada ucapannya. Cara kedua adlah dengan menyesuaikan ejaan maupun ucapannya. Penyerapan dengan [enyesuaian pada umumnya mengacu pada ucapan kata aslinya. Dengan demikian akan terjadi  dalam ejaannya, diselaraskan dengan kaidah bahasa Indonesia.Berikut ini dapat dilihat beberapa macam pola penyerapan kata-kata dalam bahasa inggris ke dalam bahasa Indonesia.
1. Kata-kata dalam bahasa Inggris yang berawal dengan huruf C,Ch, dan Q.
Contoh:
Inggris
Ucapan
Indonesia
Certificate
Se(r)tifikeit
Sertifikat
Censor
Sensor
Sensor
Canteen
Kantiin
Kantin
Corruption
Korapsien
Korupsi
Check
Cek
Cek
Charter
Carter
Carter
Chocolate
Cokeleit
Coklat
Character
Karakte(r)
Karakter
Quality
Kwoliti
Kualitas
Quantity
Kwontiti
Kuantitas
Quota
Kwota
Kuota
Quiz
Kwiz
Kuiz
2. Suku kata bahasa inggris yang berakhir dengan “-tion” dan “-sion”, berubah menjadi “-si
Contoh:
Inggris
Indonesia
Arti
Adoption
Adopsi
Mengangkat(anak)
Association
Asosiasi
Himpunan,ikatan
Attension
Atensi
Perhatian
Calculation
Kalkulasi
Perhitungan
Combination
Kombinasi
Kumpulan
Condition
Kondisi
Keadaan
Deportasion
Deportasi
Pengusiran WNA dari suatu Negara
Discussion
Diskusi
Pembicaraaan
Deviation
Deviasi
Penyimpangan
Emotion
Emosi
Perasaan
Vibration
Vibrasi
Getaran
Transportstion
Transportasi
Pengangkutan
Suggestion
Sugesi
Dorongan jiwa
3. Kata-kata dalam bahasa Inggris yang mempunyai suku-kata akhir “-ty” akan berubah menjadi “-tas” dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
Inggris
Indonesia
Arti
Activity
Aktivitas
Kegiatan
Facility
Fasilitas
Sarana
Integrity
Integritas
Sifat jujur
Priority
Prioritas
Yang diutamakan
Quality
Kualitas
Mutu
Reality
Realitas
Kenyataan
University
Universitas
Perguruan tinggi
Namun,  hal ini tidak berlaku untuk kata:
Inggris
Indonesia
Arti
Comodity
Komoditi
Barang dagangan
Penalty
Penalty
Hukuman
Royalty
Royalty
Pembayaran kepada pemegang hak cipta.
4. Kata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata akhir “-nt” akan berubah menjadi “-n” dalam bahasa Indonesia
Contoh:
Inggris
Indonesia
Arti
Argument
Argument
Bantahan
Component
Komponen
Bagian dari suatu alat
Dominat
Dominan
Unggul
Element
Elemen
Unsure
Patent
Paten
Hak paten
Statement
Statemen
Pernyataan


Namun, Hal ini tidak berlaku untuk kata-kata berikut:
Inggris
Indonesia
Arti
Comment
Komentar
Pendapat
Investment
Investasi
Penanaman modal
Argument
Argumentasi/argument
Sanggahan
5. Kata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata akhir “-ism” akan berubah menjadi “-isme” dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
Inggris
Indonesia
Arti
Antogonism
Antagonism
Bertentangan
Dualism
Dualism
Bersifat men-dua
Egoism
Egoism
Mementingkan diri sendiri
Organism
Organism
Mahluk hidup
Optism
Optismisme
Rasa percaya diri yang kuat
6. Kata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata akhir “-ive” akan berubah menjadi “-if” dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
Inggris
Indonesia
Arti
Aggressive
Agresif
Galak
Attracktive
Atraktif
Menarik
Competitive
Kompetitif
Bersaing
Destructive
Destruktif
Bersifat merusak
Negative
Negatif
Kurang,buruk
Selective
Selectif
Pilih-pilih
7. Kata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata akhir “-nal” akan berubah menjadi “-nal” dalam bahasa Indonesia, namun ejaan keseluruhan berubah sesuai dengan ucapannya.
Contoh:
Inggris
Indonesia
Arti
Emotional
Emosional
Perasa
Functional
Fungsional
Berkenaan dengan kerjanya dan tugasnya
Rational
Rasional
Masuk akal
Proportional
Proporsional
Sebanding,sesuai
Traditional
Tradisional
Adat,kebiasan
8. Kata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata awal “ph-” sesuai dengan ucapannya menjadi  “f-“  dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
Inggris
Indonesia
Arti
Phantom
Fantom
Tiruan,ilusi
Phenomena
Fenomena
Peristiwa yang hebat
Phrase
Frasa
Untaian kata
Physics
Fisika
Ilmu fisika
Physiologi
Fisiologi
Ilmu  faal
9. Kata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata awal “th-” akan berubah menjadi “t-” dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
Inggris
Indonesia
Arti
Theatre
Teater
Gedung pertunjukkan
Theme
Tema
Pokok bahasan
Therapy
Terapi
Pengobatan
Thermometer
Thermometer
Alat pengukur suhu
10. Kata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata akhir “-y” akan berubah menjadi “-i” dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
Inggris
Indonesia
Arti
Anarchy
Anarki
Kekacauan
Biography
Biografi
Riwayat hidup
Calligraphy
Kaligrafi
Seni menulis indah
Planology
Planologi
Ilmu tata kota
Pathology
Patologi
Ilmu tentang  penyakit
Subsidy
Subsidi
Bantuan berupa uang
11. Akhiran suku-kata “-ic” dalam bahasa Inggris dapat menjadi beberapa bentuk.
Contoh:
Inggris
Indonesia
Arti
1.AtheleteAthletic 
Athletics
AtlitAtletis 
Atletik
OlahragawanSifat badan yang kokoh 
Cabang olah raga atletik
2. FantasyFantasia 
Fantastic
FantasiFantasia 
Fantastis
KhayalanKarya seni penuh fantasi 
Sesuatu yang menakjubkan
3. MechanicMechanism 
Mechanical
MekanikMekanisme 
Mekanis
MontirTata cara kerjanya 
Berkaitan dengan mesin
4. PoliticsPolitical 
Politic
Ilmu politikPolitis 
Politik
Ilmu tentang tata-cara mengelola negaraBerkaitan dengan politik 
Berkaitan dengan pemerintahan
12. Kata-kata dalam bahsa Inggris yang berawal dengan huruf C dapat berubah menjadi S, K, atau diawali dengan huruf C dalam bahasa Indonesia, sesuai dengan ucapannya.
Contoh:
Inggris
Indonesia
Arti
Ceremony
Seremoni
Upacara
Celebrity
Selebriti
Boring-orang terkenal
Circuit
Sirkuit
Tempat balapan mobil
Chaotic
Keiotik,keiotis
Berantakan
Check
Cek
Memeriksa
Café
Kafe
Semacam kedai atau restoran
Campus
Kampus
Lingkungan perguruan tinggi
Career
Karir
Pekerjaan
Clarification
Klarifikasi
Penjelasan
Kata-kata serapan memang menambah pembendeharaan kosa-kata bahasa Indonesia. Namun, penyerapan atau peminjaman kata-kata asing tersebut juga akan menimbulkan kerancuan, keragu-raguan, atau kekeliruan.
Contoh:
(a)   Akses dan Ekses
Dua kata ini memiliki kemirpan dalam ejaannya, tetapi memiliki arti yang berbeda.
ð>  Akses berasal dari access yang berarti jaln penghubung, kemudahan untuk mendapatkan sesuatu, kemudahan untuk menemui seseorang.
ð>  Ekses berasal dari kata Excess yang berarti berlebihan atau kelebihan, lebih dari seharusnya, perilaku yang melanggar moralitas dan kemanusiaan.
(b)  Even dan Event
ð>  Kata even memiliki  arti rata, datar, genap, ama, bahkan.
ð>  Kata Event mengandung arti pertistiwa,kejadian,pertandingan.
(c)   Moment atau momen dan momentum
ð>  Moment atau momen berkaitan dengan waktu
ð>  Momentum berkaitan dengan gerak, dorongan, dan kekuatan.
(d)   Reformasi dan Anarki
ð>  Reformasi berasal dari kata to reform yang berarti memperbaiki (menjadi lebih baik). Namun, reformasi juga berarti perbaikan dalam tatanan social, politik, pemerintahan, dll.
ð>  Anarki berasal  dari kata anarchy berarti kekacauan. Selain itu, anarki juga mengabaikan atau tidak mengakui adanya hokum peraturan dan kekuasaan pemerintah.
Dari penjelasan tersebut, jelaslah bahwa anarki bertentangan dengan reformasi dan bukan bagian dari reformasi.
(a)   Legal dan Legimate
Dalam bahasa Indonesia, kedua kata ini memiliki arti sah (sah menurut hukum atau konstitusi).  Lawan kata legal adalah illegal atu illegal, sedangkan lawan kata dari legitimate adalah illegitimate.
ð>  Legal biasanya berkaitan dengan hokum, misalnya pemalsuan ijazaah adalah perbuatan illegal.
ð>  Kata legitimate biasanya digunakan untuk pemerintahan, misalnya pemerintah yang legitimate merupakan pemerintahan yang dipilih oleh rakyat.
(b)   Kerancuan dalam proses penyerapan
ð>   Pada harian Pikiran Rakyat yang terbit tanggal 18 November 2000, pada halaman 4 (empat) terdapat judul berita sebagai berikut : “Karetaker Gubernur Banten Hari ini Dilantik Mendagri”.  Kata caretaker dipakai sebagai pengganti  caretaker (baca:keteike) yang artinya pejabat sementara. Penyerapan seperti ini jelas tidak benar.
ð>  Akhir-akhir ini banyak pejabat atau petinggi Negara menggunakan gabungan kata”kebohongan politik”. Bandingkan dengan kata-kata berikut:
-          Public opinion = opini pubic =pendapat umum.
-          Public figure = tokoh public = tokoh masyarakat.
Jadi, kata “kebohongan publik” = public lie = kebohongan rakyat. Namun, rakyat berbohong kepada siapa?  Agar tidak menimbulkan kerancuan, sebaiknya kata tersebut dinyatakan berbohong kepada rakyat atau tidak mengatakan yang sebenarnya kepada rakyat.
(c)   Okay
Dalam bahasa Inggris kata ‘okay’ berarti ‘lumayan’, ‘cukuo baik’, atau ‘saya setuju’, tergantung dengan konteks .
ð>   A: Why don’t we go to shop?     ==>   A: Anda ingin ke toko?
B: Okay                                                           B: Oke
Dalam konteks ini kata okay dan oke mengandung arti yang sama.
ð>  Oh, that place is okay I guess.  ==>     Tempat itu lumayan menurut indah menurut saya.
Dalam konteks ini arti dari kata ‘okay’ dan ‘oke’ berbeda. Sejak kata ‘oke’ masuk bahasa Indonesia artinya sudah berubah terlalu jauh untuk digunakan untuk terjemahan langsung dalam contoh ini.
ð>   Who okayed this deal?  ==>         Siapa yang menandatangani persetujuan ini?
Pennggunaan ‘okay’ ini belum terbiasa dalam bahasa Inggris, jadi tidak aneh bahwa artinya tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Dari contoh di atas, dapat diketahui ada terdapat perbedaan di antara ‘oke’ dan ‘okay’. Kata ‘oke’ dapat diartikan ’saya dapat’  atau  ‘unggul’ tidak ada dalam bahasa Inggris. Contoh penggunaannya dapat dilihat dalam slogan stasiun televise RCTI, ‘Semakin Oke”. Jika kata ‘oke’ masih ada artinya sama dengan
Pennggunaan ‘okay’ ini belum terbiasa dalam bahasa Inggris, jadi tidak aneh bahwa artinya tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Dari contoh di atas, dapat diketahui ada terdapat perbedaan di antara ‘oke’ dan ‘okay’. Kata ‘oke’ dapat diartikan ’saya dapat’  atau  ‘unggul’ tidak ada dalam bahasa Inggris. Contoh penggunaannya dapat dilihat dalam slogan stasiun televise RCTI, ‘Semakin Oke”. Jika kata ‘oke’ masih ada artinya sama dengan kata ‘okay’ dalam bahasa Inggris, penggunaan ini tidak mungkin, karena tidak ada kampanye iklan yang harap meyakinkan penontonnya bahwa acaranya “semakin lumayan”.
Dari beberapa  contoh di atas terlihat jelas bahwa bahasa Inggris sangat mempengaruhi pemakaian kosa-kota dan bahkan struktur bahasa  Indonesia. Banyak kata yang mengalami perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi terkadang dapat  menimbulkan kerancuan dalam pemakaiannya. Bahkan, pemakaian bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sering digabungkan dalam satu rangkaian kalimat. Hal ini terjadi  supaya  orang yang menggunakannya akan terlihat lebih modern.
Penyerepan kosa-kata tersebut dapat menambah pembendaharaan kosa-kota Indonesia. Hal ini sudah tentu akan mempermudah kita  berinteraksi  khususnya kepada negar-negara lain. Namun.penyerapan kosa-kota  tersebut  jangan diterima  begitu saja. Dalam proses penyerapan harus dapat dilakukan dengan selektif, supaya karakteristik dari bahasa Indonesia tidak akan hilang.
2.3.9        Istilah Nusantara
Tidak ada satu bahasa pun yang sudah memiliki kosakata yang lenhgkap dan tidak memerlukan ungkapan untuk gagasan, temuan, atau rekacipta yang baru.sejalan dengan itu, bahan istilah Indonesia diambil dari berbagai sumber, terutama dari tiga golongan bahasa yang penting, yakni (1) bahasa Indonesia, termasuk serapannya, dan bahasa Melayu, (2) Bahasa Nusantara yang serumpun, termasuk bahasa Jawa Kuno, dan (3) bahasa asing, seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab
Istilah Indonesia dapat dibentuk lewat penerjemahan berdasarkan kesesuaian makna, tetapi bentuknya tidak sepadan. Misalnya:
Supermarket                      pasar swalayan
Merger                               gabung usaha\
Dalam pembentukan istilah lewat penerjemahan perlu diperhatikan pedoman berikut
a.       Penerjemahan tidak harus berasas satu kata diterjemahkan dengan satu kata.
Misalnya:
Psychologist                      ahli psikologi
Medical practitioner          dokter
b.      Istilah asing dalam bentuk positif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk positif, sedangkan istilah dalam bentuk negative diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk pula. Misalnya:
Bound from                      bentuk terikat
Illiterate                             niraksara
c.       Kelas kata istilah asing dalam penerjemahan sedapat-dapatnya dipertahankan pada istilah terjemahannya. Misalnya:
Merger                   gabung usaha (nomina)
Transparent           bening (adjektiva)
d.      Dalam penerjemahan istilah asing dengan bentuk plural, pemarkah kejamakannya ditanggalkan pada istilah Indonesia. Misalnya:
Alumni                              lulusan
Master of ceremonies        pengatur acara




























BAB III
PENUTUP
Perkembangan makna bahasa mencakup segala hal tentang makna yang mengalami perkembangan. Perubahan makna bahasa merupakan gejala yang terjadi di dalam suatu bahasa akibat dari pemakaian yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor di dalam bahasa maupun di luar bahasa. Perubahan makna dapat terjadi pada beberapa hal sebagai berikut. Pertama, perubahan makna dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Kedua, perubahan makna akibat lingkungan. Ketiga, perubahan makna akibat pertukaran tanggapan indera. Keempat, perubahan makna akibat gabungan kata. Kelima, perubahan makna akibat tanggapan pemakaian bahasa. Keenam, perubahan makna akibat asosiasi dan ketujuh perubahan makna akibat bidang ilmu dan teknologi.






















DAFTAR PUSTAKA

Badudu, JS. 2006. Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jakarta : Intisari.
Daryanto. 1979. Kamus Bahasa Indonesia Lengkap. Apollo: Surabaya.
Google search.www.kegagalan pengajaran bahasa Indonesia_monumen cinta.blog. diakses 08 Mei 2011
Google search. www.teknologi dan pergeseran makna.blog. Diakses 08 Mei 2011
Hariyatmo,Sri.2009.Panduan Mengajar Bahasa Indonesia.Buku Panduan Kuliah b Indo.Diakses pada tanggal 08 Mei 2011
Hasyim,Munira.2011.Sejarah Pengkajian Bahasa Indonesia.Makassar:Universitas Hasanuddin
Yamila,M dan Slamet Samsoerizal.1992.Bahasa Indonesia Untuk Pendidikan Tenaga Kesehatan.Jakarta:Buku Kedokteran EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar